SEJARAH DESA PAYANGAN
OM SWASTYASTU
OM AWIGNAMASTU
Atas Asung wara nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa,Berkat Auntaman Bliau maka Asal Usul Desa Adat Payangan Baru Ditemukan Pada Tahun 1992 Pada saat desa Adat Payangan mengikuti lomba desa adat se kabupaten, Tabanan.Ada dua Peraturan tentang adanya Desa Adat Payangan Yaitu:
1).Secara Etimologi
2). Secara Sejarah / Asal-usul
Berdasarkan Kesamaan nama yaitu payangan gianyar maka ada hubungan
Dengan desa payangan yang mana tercantum atau tertulis pada Lontar babad
Yang berada di tulis payangan gianyar.yang merupakan perjalanan putra raja.
Pada jaman kerajaan dahulu kala, raja-raja di bali saling mengadu kesaktian demi kekuasaan.
Pada saat itu raja payangan di serang oleh raja klungkung,terjadilah peperangan yang saling adu kekuatan dan kesaktian, maka kalahlah raja payangan pada saat itu,karena kalah maka raja klungkung ingin memiliki dan menguasai wilahnya, pada saat itu raja payangan sangat kecewa dan bersedih.Saat itu di panggil lah putranya dan panjaknya 7 orang untuk menghadap.pada saat itu sang raja mengutus putranya dan panjak 7 orang untuk meningggalkan puri demi keselamatan .Akhirnya putra raja menuruti printah raja untuk meningggalkan puri di ikuti 7 orang pamjaknya.mulailah bersiap-siap untuk pergi sesuai saran sang raja pergilah ke arah barat yaitu menuju hutan belantaran di wilayah kekuasaan raja marga Tabanan. Didalam perjalanan putra raja dan 7 orang panjak tidak mengenal/merasa Lelah sehingga sampailah di tepi sungai yeh sungi.di sana putra raja dan panjak istirahat di tepi sungai.keadaan cuaca tidak mendukung,tiba-tiba turunlah hujan deras sehingga air sungai meluap dan banjir.Sehingga tidak bisa lewat,dalam keadaan dalam keadaaan banjir besar tiba-tiba datanglah atau hanyutlah sebatang kayu besar dari ulu,seketika itu nyangkut di hadapan puta raja dan panjak, nyangkutnya se olah olah seperti titi, maka putra raja dan panjak berpikir bisakah melintas di atas kaya itu,di putuskanlah Bersama-sama melintas di atas kayu itu,sehingga semua bisa nyebrang sungai setelah semuanya sampai di tepi sungai, maka tiba-tiba batang kayu itu berubah menjadi seekor ikan besar yaitu ikan julit. Seketika itu putra raja dan panjak menyembah dan mengucapkan terima kasih kepada ikan julit telah menyelamatkan perjalananya. Dan beliau ber sumpah mulai saat itu putra raja dan panjak tidak mengkomsumsi ikan julit,
(di sucikan), Di tepi sungai itu pula putra raja menanam pohon andong.untuk mendirikan pura penyungsungan ikan julit yang di berinama ‘’Pura Yeh Bubuh’’ada di wilayah desa adat petiga. Setelah itu melanjutkan perjalanan menuju arah barat daya menuju sebuah hutan, setelah sampai di hutan itu, sudah malam hari maka tidurlah beliau di sana, pada malam hari beliau di ganggu oleh makhluk alus ( ) maka bliau tidak bisa tidur semalam suntuk, maka tempat itu di beri nama Alas trii yang sekarang di menjadi Br Alas Pere.Besoknya melanjutkan perjalanan ke barat dilihatlah semak blukus yaitu rumput glagal maka di berinam Br glagah sampai sekarang.selanjutnya putra raja dan panjak melanjutkan perjalanan keutara di sanalah bliau dan panjak menerobos hutan dan malamnya bersemedi,setelah mendapat hasil semedi dan pewisik, maka putra raja dan panjak memutuskan untuk menetap di tempat tersebut.pada saat itu putra raja menyuruh 7 orang panjak menantarang (plawa) sebagai awal mendirikan tempat suci (merajan) dan tempat itu sebagai pusat (wredi pusat) atau (wreda)m = Tua. Sehingga di beri nama Payangan wredi (Pusat).Lama-lama menjadi payangan medi artinya tempat putra raja dalam semedi. Setelah 7 panjak itu menetap, di susulah untuk bercocok tanam dan melanjutkan menjelajah hutan sampai ketengah kayangan sekarang menjadi Br Payangan tengah. Kemudian kearah seletan menrabas hutan (alas) yang sekarang menjadi Br,Alas Teruna , di sekitar itu panjak itu membuat peristirahtan (pesandekan) yanga sekarang menjadi Br Alas Sandekan Lama-lama menjadi Br Alas sandekan lama-lama menjadi Br Alas sandan.dengan berselang waktu tidak lama, putra raja menyuruh menrobos hutan kea rah hutan (Kaja) sehingga menjadi Br payangan kaja.selanjutnya sampai panjak itu menrabas hutan perbatasan Alas (Hutan) Greseh yang sekarang di beri nama, Br Greseh.setelah perobosan hutan cukup luas maka putra raja menyuruh panjaknya menacapkan Andong (Plawa) yaitu untuk tempat suci kayangan tiga (puseh baleagung dan dalem),yang sesuai dengan tatanan prayangan suci kyangan tiga yaitu :
1.pura puseh adalah di ulu
Dan di ingat oleh putra raja,bahan di pure puseh agar di tancapkan andong (plawa) untuk penyongsongan pure yeh bubuh.dan diingatkan Kembali kepada panjaknya agar tidak memakan ikan julit begitu pula keturunya kedepananya, karena ikan julit itu sebagai penyelamat perjalanan bliau.dan panjaknya. Putra raja memberi saran kepada panjaknya agar bercocok tanam di wilayah yang sudah di labas
Seperti :
1.Pepaya
2.Pisang
3.Kelapa
4.Padi
Yang paling pertama di tanam alas menjadinya adalah “Pepaya” maka payangan adalah sangat cocok untuk papaya. Dan dijadikan:mascot DRSA PAYANGAN yaitu:
“Buah Pepaya dan 2 Ekor Ikan Julit”
Demikian sekilas asal usul desa adat payangan, seluruh masyarakat payangan dapat mengetahuinya.dengan semestinya.
OM SHANTI SHANTI SHANTI OM